BEGINILAH MEREKA BERBAKTI Kisah yang lainnya yaitu Ibnu Mas’ūd Radhiyallāhu…

BEGINILAH MEREKA BERBAKTI

Kisah yang lainnya yaitu Ibnu Mas’ūd Radhiyallāhu ‘anhu, salah seorang shahābat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Diceritakan bahwa andaikan malam telah tiba, ketika ibunya beristirahat maka Ibnu Mas’ūd pun duduk dan berbaring disamping ibunya.

Dengan tujuan apa?

Dengan tujuan, manakala ibunya membutuhkan sesuatu maka Ibnu Mas’ūd pun siap untuk memenuhi permintaan ibunya.

Begitulah Ibnu Mas’ūd setiap malamnya tidur disamping ibunya demi untuk berbakti dan membantu apapun yang di inginkan oleh sang Ibu.

Diceritakan suatu malam…

Ibnu Mas’ūd dibangunkan oleh ibunya dan berkata:

“Ibnu Mas’ūd, saya haus, tolong carikan air.”

Maka Ibnu Mas’ūd pun mencari air di rumahnya, ternyata tidak ada.

Akhirnya dia membawa ceret dan keluar dari rumahnya (untuk) mencari air.

Sekembalinya mencari air ternyata ibunya sudah tertidur karena mungkin Ibnu Mas’ūd agak lama mencari airnya.

Maka dilematis saat itu, apakah dia akan bangunkan ibunya? Ataukah dia akan biarkan?

Kalau dibangunkan Ibnu Mas’ūd khawatir bila nanti ibunya akan terganggu tidurnya. Tapi kalau tidak dibangunkan, nanti malam (saat) ibunya kehausan terus bagaimana dia mencari Ibnu Mas’ūd dalam keadaan sudah tertidur?

Dia khawatir ibunya tidak tahu kalau Ibnu Mas’ud sudah datang karena suasananya gelap.

Akhirnya dia mencari jalan tengah, apa yang dilakukan oleh Ibnu Mas’ud?

Dia berdiri di samping ibunya sambil membawa ceret, menunggu ibunya sampai dia bangun karena khawatir malam-malam ibunya bangun.

Dia berdiri terus karena capek, kadang-kadang dia duduk. Ketika duduk dan datang rasa kantuk maka dia berdiri lagi untuk menghilangkan rasa kantuk.

Ketika capek lalu dia duduk, begitu duduk lalu berdiri lalu duduk lagi berdiri lagi. Dan ternyata semalaman ibunya tidak bangun.

Ketika shubuh, Ibnu Mas’ūd menyerahkan air itu kepada ibunya untuk diminum oleh ibunya.

Luar biasa bukan ?!

Ibnu Mas’ūd telah mempraktekan nasehat yang disampaikan oleh Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, (yaitu) ketika salah seorang dari shahābat bertanya kepada Beliau,

“Wahai Rasūl, siapakah manusia yang paling berhak untuk saya pergauli dengan baik? Untuk saya muamalahi dengan baik, siapakah orang yang paling berhak tersebut?”

Kata Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam: “Ibumu.”

Kemudian siapa lagi wahai Rasūl?”

Nabi mengulangi kedua: “Ibumu.”

Kemudian siapa lagi wahai Rasūl?”

Nabi mengulangi ketiga kalinya, “Ibumu.”

Tiga kali disebutkan ibunya, kemudian setelah (itu) keempatnya Nabi mengatakan: “Bapakmu.”

(HR Bukhāri no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Hadits ini sering kita dengar tapi belum tentu kita sudah mempraktekannya.

Hadits ini tidak sedang menjelaskan bahwa kita itu tidak boleh bergaul dengan baik (kepada) selain orang tua, bukan!

Tapi yang jadi pertanyaan adalah:

“Siapakah dari sekian banyak manusia yang ada di muka bumi, yang paling berhak untuk kita pergauli dengan baik?”

Jawabannya adalah ibu kita, kemudian baru bapak kita.

Nah, sekarang sudahkah kita menjadikan orang tua kita sebagai prioritas kita yang paling tinggi untuk kita pergauli dengan baik?

Jawabannya, banyak diantara kita yang cara bergaulnya kepada kolega bisnisnya atau bosnya atau (maaf) pacarnya atau tetangganya atau teman akrabnya, lebih baik daripada cara bergaul dia kepada orang tuanya.

Apakah dia sudah mempraktekan hadits Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam tadi?

semoga kita bisa berakhlak dengan mulia kepada kedua orangtua kita.
aamiin

keep syar’i n inspiring
@Muslimah_talk

Posted by | View Post | View Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *