HAKEKAT WISATA DALAM ISLAM, HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA Kata Wisata menurut…

HAKEKAT WISATA DALAM ISLAM, HUKUM DAN MACAM-MACAMNYA

Kata Wisata menurut bahasa mengandung arti yang banyak. Akan tetapi dalam istilah yang dikenal sekarang lebih dikhususkan pada sebagian makna itu. Yaitu, yang menunjukkan berjalan-jalan ke suatu negara untuk rekreasi atau untuk melihat-lihat, mencari dan menyaksikan (sesuatu) atau semisal itu. Bukan untuk mengais (rezki), bekerja dan menetap.

Pengertian wisata dalam Islam.

Islam datang untuk merubah banyak pemahaman keliru yang dibawa oleh akal manusia yang pendek, kemudian mengaitkan dengan nilai-nilai dan akhlak yang mulia. Wisata dalam pemahaman sebagian umat terdahulu dikaitkan dengan upaya menyiksa diri dan mengharuskannya untuk berjalan di muka bumi, serta membuat badan letih sebagai hukuman baginya atau zuhud dalam dunianya. Islam datang untuk menghapuskan pemahaman negatif yang berlawanan dengan (makna) wisata.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hani dari Ahmad bin Hanbal, beliau ditanya tentang seseorang yang bepergian atau bermukim di suatu kota, mana yang lebih anda sukai? Beliau menjawab: “Wisata tidak ada sedikit pun dalam Islam, tidak juga prilaku para nabi dan orang-orang saleh.” (Talbis Iblis, 340).

Ibnu Rajab mengomentari perkataan Imam Ahmad dengan mengatakan: “Wisata dengan pemahaman ini telah dilakukan oleh sekelompok orang yang dikenal suka beribadah dan bersungguh-sungguh tanpa didasari ilmu. Di antara mereka ada yang kembali ketika mengetahui hal itu.” (Fathul-Bari, karangan Ibnu Rajab, 1/56)

Kamudian Islam datang untuk meninggikan pemahaman wisata dengan mengaitkannya dengan tujuan-tujuan yang mulia. Di antaranya

1. Mengaitkan wisata dengan ibadah, sehingga mengharuskan adanya safar -atau wisata- untuk menunaikan salah satu rukun dalam agama yaitu haji pada bulan-bulan tertentu. Disyariatkan umrah ke Baitullah Taโ€™ala dalam setahun.

Ketika ada seseorang datang kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam minta izin untuk berwisata dengan pemahaman lama, yaitu safar dengan makna kerahiban atau sekedar menyiksa diri, Nabi sallallahu alaihi wa sallam memberi petunjuk kepada maksud yang lebih mulia dan tinggi dari sekedar berwisata dengan mengatakan kepadanya, โ€œSesunguhnya wisatanya umatku adalah berjihad di jalan Allah.โ€ (HR. Abu Daud, 2486, dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud dan dikuatkan sanadnya oleh Al-Iraqi dalam kitab Takhrij Ihya Ulumuddin, no. 2641).

2. Demikian pula, dalam pemahaman Islam, wisata dikaitkan dengan ilmu dan pengetahuan. Pada permulaan Islam, telah ada perjalanan sangat agung dengan tujuan mencari ilmu dan menyebarkannya. Sampai Al-Khatib Al-Bagdady menulis kitab yang terkenal โ€˜Ar-Rihlah Fi Tolabil Haditsโ€™, di dalamnya beliau mengumpulkan kisah orang yang melakukan perjalanan hanya untuk mendapatkan dan mencari satu hadits saja.

Di antaranya adalah apa yang diucapkan oleh sebagian tabiin terkait dengan firman Allah Taโ€™ala:

ุงู„ุชู‘ูŽุงุฆูุจููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงุจูุฏููˆู†ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุงู…ูุฏููˆู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุงุฆูุญููˆู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุงูƒูุนููˆู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽุงุฌูุฏูˆู†ูŽ ุงู„ุขู…ูุฑููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุงู‡ููˆู†ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ูƒูŽุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุงููุธููˆู†ูŽ ู„ูุญูุฏููˆุฏู ุงู„ู„ู‘ู‡ู ูˆูŽุจูŽุดู‘ูุฑู ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ (ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุชูˆุจุฉ: 112)

โ€œMereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, beribadah, memuji, melawat, ruku, sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At-Taubah: 112)

Ikrimah berkata โ€˜As-Saa’ihunaโ€™ mereka adalah pencari ilmu. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Meskipun penafsiran yang benar menurut mayoritas ulama salaf bahwa yang dimaksud dengan โ€˜As-Saaihinโ€™ adalah orang-orang yang berpuasa.

3. Di antara maksud wisata dalam Islam adalah mengambil pelajaran dan peringatan. Dalam Al-Qurโ€™an terdapat perintah untuk berjalan di muka bumi di beberapa tempat. Allah berfirman: โ€œKatakanlah: ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Al-Anโ€™am: 11)

Dalam ayat lain, โ€œKatakanlah: ‘Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.โ€ (QS. An-Naml: 69)

Al-Qasimi rahimahullah berkata; โ€Mereka berjalan dan pergi ke beberapa tempat untuk melihat berbagai peninggalan sebagai nasehat, pelajaran dan manfaat lainnya.” (Mahasinu At-Taโ€™wil)

4. Mungkin di antara maksud yang paling mulia dari wisata dalam Islam adalah berdakwah kepada Allah Taโ€™ala, dan menyampaikan kepada manusia cahaya yang diturunkan kepada Muhammad sallallahu alaihi wa sallam. Itulah tugas para Rasul dan para Nabi dan orang-orang setelah mereka dari kalangan para shahabat semoga, Allah meridhai mereka. Para shabat Nabi sallallahu alaihi wa sallam telah menyebar ke ujung dunia untuk mengajarkan kebaikan kepada manusia, mengajak mereka kepada kalimat yang benar. Kami berharap wisata yang ada sekarang mengikuti wisata yang memiliki tujuan mulia dan agung.

5. Yang terakhir dari pemahaman wisata dalam Islam adalah safar untuk merenungi keindahan ciptaan Allah Taโ€™la, menikmati indahnya alam nan agung sebagai pendorong jiwa manusia untuk menguatkan keimanan terhadap keesaan Allah dan memotivasi menunaikan kewajiban hidup. Karena refresing jiwa perlu untuk memulai semangat kerja baru. Allah subhanahu wa taโ€™ala berfirman:

ู‚ูู„ู’ ุณููŠุฑููˆุง ูููŠ ุงู„ุฃูŽุฑู’ุถู ููŽุงู†ุธูุฑููˆุง ูƒูŽูŠู’ููŽ ุจูŽุฏูŽุฃูŽ ุงู„ู’ุฎูŽู„ู’ู‚ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูŠูู†ุดูุฆู ุงู„ู†ู‘ูŽุดู’ุฃูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏููŠุฑูŒ (ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุนู†ูƒุจูˆุช: 20)

Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabut: 20)

Aturan wisata dalam Islam

1. Mengharamkan safar dengan maksud mengagungkan tempat tertentu kecuali tiga masjid. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu sesungguhnya Nabi sallallahuโ€™alai wa sallam bersabda:
โ€œTidak dibolehkan melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasulullah sallallahuโ€™alaihi wasallam dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari, no. 1132, Muslim, no. 1397)

Hadits ini menunjukkan akan haramnya promosi wisata yang dinamakan Wisata Religi ke selain tiga masjid, seperti ajakan mengajak wisata ziarah kubur, menyaksikan tempat-tempat peninggalan kuno, terutama peninggalan yang diagungkan manusia, sehingga mereka terjerumus dalam berbagai bentuk kesyirikan yang membinasakan. Dalam ajaran Islam tidak ada pengagungan pada tempat tertentu dengan menunaikan ibadah di dalamnya sehingga menjadi tempat yang diagungkan selain tiga tempat tadi.
Maka tidak dibolehkan memulai perjalanan menuju tempat suci selain tiga tempat ini. Hal itu bukan berarti dilarang mengunjungi masjid-masjid yang ada di negara muslim, karena kunjungan kesana dibolehkan, bahkan dianjurkan. Akan tetapi yang dilarang adalah melakukan safar dengan niat seperti itu. Kalau ada tujuan lain dalam safar, lalu diikuti dengan berkunjung ke (masjid), maka hal itu tidak mengapa. Bahkan terkadang diharuskan untuk menunaikan jumโ€™at dan shalat berjamaah. Yang keharamannya lebih berat adalah apabila kunjungannya ke tempat-tempat suci agama lain. Seperti pergi mengunjungi Vatikan atau patung Budha atau lainnya yang serupa.

2. Ada juga dalil yang mengharamkan wisata seorang muslim ke negara kafir secara umum. Karena berdampak buruk terhadap agama dan akhlak seorang muslim, akibat bercampur dengan kaum yang tidak mengindahkan agama dan akhlak. Khususnya apabila tidak ada keperluan dalam safar tersebut seperti untuk berobat, berdagang atau semisalnya, kecuali Cuma sekedar bersenang senang dan rekreasi. Sesungguhnya Allah telah menjadikan negara muslim memiliki keindahan penciptaan-Nya, sehingga tidak perlu pergi ke negara orang kafir.

3. Tdk diragukan lg bahwa ajaran Islam melarang mendatangi tempat2 wisata yg banyak kerusakan dan kemaksiatan. Atau jg diharamkan safar untuk merayakan perayaan bid’ah

4. Adapun berkunjung ke bekas peninggalan umat terdahulu dan situssitus kuno. Jika itu tempatnya diturunkan azab atau tempat suatu kaum dibinasakan sebab kekufurannya kpd Allah Subhanahu Wata’ala maka tdk dibolehkan menjadikannya tempat wisata

5. Tdk diperbolehkan wanita berpergian (safar) tanpa mahram

6. Adapun mengatur wisata untuk org kafir dinegara Islam asalnya diperbolehkan. Akan tetapi keberadaannya dinegara islam harus menghormati agama Islam, akhlaq dan kebudayaan Islam.dia pun dilarang mendakwahkan agamanya dan tdk mnuduh Islam dgn bathil. Mereka jg tdk boleh sebagai mata2 untuk negaranya. Dan terakhir tdk boleh mendatangi 2 tempat suci yaitu mekkah dan madinah.

Sumber : IslamQA.com

Keep syar’i n inspiring
@Muslimah_talk

Posted by | View Post | View Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *