Honey, wait me in jannah

wait of me in jannah

by ‘: Rihan Azzahra / @FitriyaniHanda
Gaya bahasa : Penulisan diary

Dear Arkan suamiku sayang… Masih terbayang jelas raut wajahmu yang sweet membuatku tak jemu untuk memandangmu. Pandangan matamu adalah karunia yang menyejukan jiwaku. Dirimu yang pendiam namun berhati malaikat. Dirimu yang terkesan dingin ternyata berjiwa humoris. Jika dituturkan betapa indahnya dirimu mungkin takkan mampu untuk digoreskan pena dalam lembaran – lembaran kertas. Yang ku tahu dirimu adalah cinta sejati yang tumbuh dari dalam relung hati yang hanya mampu ku rasa. Meskipun rasa cinta itu bukanlah rasa yang dapat diraba, tak dapat dilihat, namun hati yang dapat berkata bahwa itulah cinta.

Arkan suamiku sayang, ingatkah pertama kali kita bertemu saat aku masih bekerja menjadi pramusaji rumah makan kau meminta uang kembalian dengan nada marah – marah. Tahukah sayang bagaimana perasaanku saat itu? Aku sangat kesal dan menilaimu pemarah. Namun tak pernah ku duga asal mula dari rasa kesal itu Allah satukan kita dalam mahligai pernikahan. Kata orang rasa benci dapat mengubah menjadi rasa cinta. Rasa kesal itulah awal dari sebuah rasa hingga berubah jadi cinta. Entah aku tak mengerti kenapa rasa cinta itu bisa ada dalam hati. Aku tak pernah memimpikan untuk mencintaimu ataupun menjadi bidadari surgamu. Karena aku tak mengenal dirimu, tak mengetahui bagaimana rupa orang tuamu dan bagaimana keluargamu. Tapi Allah yang telah memilih dirimu untuk menjadi belahan jiwaku sesuai yang tertulis dalam kitab Lauh Mahfuds sebelum manusia diciptakan.

Arkan suamiku sayang, setelah menikah denganmu baru ku tahu bahwa dirimu bukanlah seperti yang ku nilai sebelumnya. Hati yang ku nilai pemarah ternyata berhati malaikat. Ringan tanganmu yang senantiasa menolong orang lain membuatku bersyukur memiliki suami sepertimu. Keluarga kecil kita mulai berwarna ketika putera pertama kita lahir yaitu Faiq Al-Farisi. Kelahiran Faiq memotivasi dirimu semangat mencari nafkah untuk menghidupi keluarga kecil kita. Kau semakin arif dan semangat bekerja. Hingga rezeki dari Allah tak henti – hentinya mengalir deras untuk kita. Dimulai dari kita tak memiliki apa – apa hingga kita memiliki tanah, rumah dan perabotan rumah lengkap. Dua tahun usia putera kita yang pertama ternyata Allah menitipkan janin kedua untuk kita. Saat itu kau berharap anak kedua kita adalah anak perempuan. Namun ternyata takdir Allah lebih baik dari rencana kita sebagai hamba-Nya. Anak kedua kita ternyata laki – laki kembali yang kita beri nama Muhammad Fathir. Namun hal itu tak menyurutkanmu semangatmu. Kau tetap sabar dalam membimbing keluarga.

Arkan suamiku sayang, aku sangat terpesona ketika kau bertilawah alquran di depan anak – anak kita. Kisah hidupmu yang pernah menjadi santri ternyata membuahkan hasil dengan tilawah yang merdu. Tilawah quranmu bagai dawai – dawai gitar yang menghasilkan melody indah jika dipetik. Berbeda denganku yang tidak bisa mengaji alquran dan hanya bisa mengaji turutan. Teringat sekali ketika kau mengajariku mengaji turutan membuat kita berbeda pendapat karena cara pengejaan.

“Alif jabar A, Alif jabar I, Alif jabar U jadi A I U.” itu katamu.
“Alif diatas A, Alif bawah I, Alif dapan U jadi A I U. Itu yang ku tahu.

Ada gelak tawa jika teringat masa – masa mengaji itu. Perbedaan itu hanyalah perbedaan bahasamu dan bahasaku saja.

Arkan suamiku sayang, wajahmu begitu bahagia ketika aku hamil kembali dan melahirkan anak ketiga kita seorang anak perempuan yang selama ini kau dambakan. Lalu kita memberi nama anak kita dengan nama Salwa Azzahra. Rasa sayangmu tercitra sejak ia lahir hingga ia bisa berbicara. Jika kau pulang ke rumah membawa makanan pasti Zahra selalu kau bangunkan tak perduli jika Zahra sedang tertidur. Kehidupan itu seperti roda berputar. Seperti itu pula perekonomiaan kita. Perekonomiaan mulai tidak stabil karena banyaknya kebutuhan hidup kita. Namun kita tetap bahagia karena kita dianugerahkan anak laki – laki kembali yang kita beri nama Abdullah Fatah. Meskipun rumah dan tanah habis terjual karena banyaknya kebutuhan kita namun hatimu yang dermawan tetap saja suka menolong orang lain. Kau pun dapat mencuri hati ibuku saat kita tinggal di rumah ibuku. Kau selalu memberi makanan yang ibuku suka, memberi uang belanja dan menyayangi ibuku seperti ibumu sendiri.

Arkan suamiku sayang, ketika kau terserang penyakit kombinasi aku hanya mampu bersabar dan menemanimu di rumah sakit bersama Abdullah dan Zahra yang masih kecil. Sedangkan Fathir dan Faiq bersama ibuku dirumah. Hanya doa yang mampu ku panjatkan di hari – hari sakitmu. Karena tugas seorang isteri bukanlah menemani suaminya disaat senang dan sehat saja. Namun isteri itu sebagai penguat suami untuk melengkapi langkahnya baik dalam keadaan senang, susah, sehat ataupun sakit. Semua akan terasa dilalui dengan mudah dan tegar jika saling memotivasi. Keadaan kesehatanmu mulai membaik dan kau meminta untuk pulang ke rumah. Setelah pulang kerumah ternyata keadaanmu bertambah buruk. Hingga sore itu pada hari jumat jam 3 sore kau menghembuskan nafas terakhirmu dengan kalimat tauhid Laa ilaahailaallah. Kalimat yang pasti akan membawamu ke surga menghadap kehadirat Allah. Badanku terasa lemah dan lunglai. Air mata yang membasahi pipi pun tak kuasa untuk melihat jasadmu yang sudah terbujur kaku. Arkan suamiku sayang, rasanya aku tak percaya melihat kenyataan bahwa kau telah pergi. Rasanya baru kemarin kita bertemu hingga merajut dalam mahligai pernikahan yang melahirkan anak yang lucu – lucu. Aku rasanya tak kuat dan tak mampu untuk melalui hariku kedepannya. Anak kita masih kecil – kecil dan Abdullah pun belum sempat untuk melihat wajahmu lebih lama karena ia masih bayi. Hanya tangis air mata yang turut mewarnai hariku saat itu melihat kepergianmu yang sungguh sangat dimudahkan oleh Allah. Disaat musim kemarau dan kerasnya tanah untuk dicangkul tetapi ketika menggali kuburmu kata mereka sangat mudah seperti tidak pernah terjadi musim kemarau yang panjang. Meninggalnya dirimu banyak mengagetkan banyak orang. Banyak orang memuji kebaikan yang pernah kau lakukan. Kebaikanmu banyak mendapatkan acungan jempol. Masyaallah, semua orang yang melayat mengakui kebaikanmu yang mungkin tak dapat ku uraikan karena terlalu banyaknya kau membantu orang lain dengan kemurahan tanganmu.

Arkan suamiku sayang, sepeninggal dirimu aku harus menjadi sosok wanita yang tegar dan harus tetap melanjutkan hidup dan menghidupi anak – anak kita yang masih kecil. Kau bukanlah pegawai negeri ataupun pejabat yang meninggalkan banyak warisan namun kau hanyalah seorang pegawai buruh biasa yang meninggalkan banyak amal kebaikan. Biar kau tak kaya harta namun kau kaya jiwa. Kekayaan bukanlah diukur dari banyaknya harta namun kekayaan sesungguhnya adalah terletak dihati. Kaya hatimu yang selalu dermawan kepada siapa saja. Kaya jiwamu yang senantiasa sabar dalam melalui hidup dan sabar menghadapiku yang kadang suka cerewet.

Arkan suamiku sayang, demi kelanjutan hidupku dan anak – anak kita mau tidak mau aku harus bekerja agar nafkah terpenuhi. Aku bersama ibuku memulai dengan berjualan gorengan. Aku yang memasak membuat gorengan dan ibuku yang menjajakan di sekolahan. Selain itu aku mencari kerja sampingan dengan kerja mencuci gosok baju di tempat keluarga pak Adi. Alhamdulillah, orangnya sangat baik. Sepeninggal dirimu keluarga mereka banyak membantu keluarga kita. Kadang mereka memberi santunan beras dan perhatian kepada anak – anak kita. Namun cobaan itu datang menerpaku, sayang. Namun kebaikan mereka kepada anak – anak kita mendapat pandangan buruk dari tetangga kita. Statusku yang kini menjadi janda menjadi tuduhan bahwa aku berselingkuh dengan pak Adi karena sikap pak Adi dan isterinya yang baik. Hati ini rasanya ingin menangis, Arkanku sayang. Apakah ini resiko menjadi seorang janda? Banyak tuduhan yang tidak – tidak bila bekerja dan ada yang berbuat baik. Untung saja isteri pak Adi tidak menghiraukan banyaknya tuduhan yang diajukan padaku. Karena realita terbukti bahwa mereka bekerja satu kantor dan isterinya tahu pasti posisi suaminya. Darimana ada kesempatan untuk berselingkuh sedangkan rutinitasnya dihabiskan di kantor dan satu kantor pula.

Arkan suamiku sayang, tetangga kita hampir saja hendak membunuh jika aku berselingkuh dengan pak Adi. Bagaimana aku harus mengaku perbuatan yang tidak aku lakukan sama sekali. Orang – orang bisa berdusta namun Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Aku hanya mampu berdoa bersama ibuku dan diam. Aku diam dalam tangisku akan cobaan yang Allah timpakan kepadaku. Hingga aku memutuskan untuk bekerja di Jakarta sebagai baby sister. Karena pendidikanku yang hanya bersekolah di bangku sekolah dasar. Bersekolah dibangku SD pun tak sampai tamat hanya sampai di kelas tiga. Aku enggan bersekolah kembali karena aku tidak suka jika guru yang mengajarku pacaran. Karena aku pernah melihat guruku sedang berpacaran di laut. Pandanganku saat itu buat apa bersekolah bila yang mengajar pendidikan tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada muridnya. Bagiku itu penting karena guru adalah sumber tauladan para muridnya. Walau ibu tetap memaksa sekolah namun aku tetap enggan.

Arkan suamiku sayang, aku terpaksa merantau ke Jakarta karena peliknya kehidupan. Hijrahku untuk merubah nasib dan menghidupi keluarga. Sedangkan dengan berat hati anak – anak aku titipkan pada ibu untuk merawatnya. Dengan terpaksa pula Abdullah aku sapih dari ASI sebelum waktunya. Aku harus menjadi sosok wanita yang tegar meski hati ini kerap menangis dan merasa tak kuat untuk menjalaninya. Sering aku menangis merindukan kehadiranmu disisiku. Hadirmu aku rindu, sosokmu aku harap. Aku membutuhkan kehadiranmu untuk menguatkanku, aku rindu dipelukmu untuk ketenangan hatiku dan aku butuh bahumu untuk ku menumpahkan tangisanku. Namun semua hanya semu karena kita berada di alam yang berbeda. Hanya lewat doa ku tasbihkan rindu ini hingga ke jannah.

Arkan suamiku sayang, kau tahu bagaimana rindunya hatiku kepada anak – anak kita. Ketika aku bekerja sering terlintas raut wajah anak – anak kita yang lucu – lucu. Aku tidak bisa sering pulang untuk melihat dan memeluk mereka. Rasa rindu yang kurasa itu sudah seluas samudra. Aku tahu bahwa mereka masih membutuhkan kasih sayang darimu dan dariku. Namun inilah jalan yang terbaik. Hidup berjalan sesuai yang ditetapkan Allah. Kita tak bisa menentang atau menghujah kecuali harus tegar dan sabar. Sayangku, ujian Allah pun tak berhenti sampai disitu. Aku kerja di Jakarta bawa pulang uang saja aku di tuduh bekerja sebagai pelacur. Dan aku teramat perih sembilu mendengar penuturan mereka. Rasanya kehidupan seorang janda tak lepas dari hinaan. Selalu ada saja yang menghujat jalan yang dilakukkannya. Aku hanya mampu pasrah dan sabar. Aku percaya bahwa masih ada Allah dan Allah Maha Mengetahui bagaimana pekerjaanku di Jakarta. Ibuku pun tak henti mendoakanku agar tetap kuat menghadapi ujian dari Allah. Arkan suamiku sayang, aku bekerja hanyalah dengan jalan yang halal. Aku teringat sekali prinsip yang kau pegang, sayang. Kau hanya ingin menafkahi keluarga kita hanya dengan rezeki yang halal. Meski keaadaan sulit atau mendesak jangan sampai diri terjebur mencari harta dalam kubangan hitam atau yang haram. Memberikan nafkah keluarga dengan harta yang haram sama saja mengundang bara api di dalam keluarga. Pesanmu itu terus ku ingat hingga saat ini, sayang. Aku mengamalkan apa yang telah kau bimbing untuk keluarga kita. Insyaallah, aku akan selalu menjalankan.

Arkan suamiku sayang, tanpa terasa 20 tahun sudah kau tak menemani hari – hariku. Dan aku telah membiayai anak – anak kita sekolah hingga tingkat SMA. Itu sudah menjadi rasa syukur bagiku karena pada akhirnya aku mampu memiliki anak – anak yang pendidikannya jauh lebih tinggi dari ibunya. Dan hanya Faiq lulusan yang setara denganmu sayang yaitu STM. Sedangkan Fathir lulusan SMA terfaforit di tempat kita. Sayang, Fathir adalah anak kita yang paling smart diantara anak – anak kita yang lain. Dia menyandang peringkat 1 sejak kelas 1 SD hingga SMA. Dia sering mendapatkan bea siswa prestasi di sekolahnya hingga mengurangi bebanku membayar biaya sekolahnya. Hampir semua anak – anak kita mendapatkan bea siswa bantuan bagi yang telah menyandang sebagai anak yatim. Dan itu cukup membuatku merasa terbantu. Arkan suamiku sayang, anak – anak kita kini sudah besar – besar. Faiq dan Fathir telah menikah dan membangun mahligai rumah tangga sendiri dan aku hanya berdoa semoga rumah tangga mereka hingga tua. Dan aku berharap cukup aku saja yang merasakan hidup seperti ini. Aku ingin anak – anakku bahagia hidupnya. Andai saja saat pernikahan kau hadir disini mungkin dunia akan terasa indah melihat anak – anak kita menikah. Apalagi saat ini aku sudah menjadi seorang nenek. Betapa senangnya jiwa ini dapat bercanda dengan cucu. Bila kau ada disini mungkin kita akan bercanda bersama dan menimang cucu. Abdullah juga sudah bekerja dan dapat mencari uang sendiri. Sedangkan Zahra tumbuh menjadi anak yang cantik dan sholehah. Hanya doa yang terus aku panjatkan kepada Allah agar ia dapat meraih cita – citanya untuk menjadi seorang penulis dan mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah.

Arkan suamiku sayang, perjalanan hidup yang penuh coba dan uji mengajarkan aku banyak hal. Aku sudah semakin tangguh dengan cobaan yang datang. Ujian-Nya mengajarkanku bagaimana aku harus bersabar. Ujian-Nya mengajarkanku bagaimana untuk tetap kuat walau sesedih apapun hati ini. Ujian-Nya mengajarkan aku bagaimana untuk menjadi sosok wanita tangguh dan berjuang untuk menghidupi anak – anak kita dan ibu. Ujian-Nya yang awalnya mengundang banyak air mata dan rasa sakit ternyata menyimpan banyak hikmah. Dan kata Zahra bahwa aku harus berbahagia karena aku sudah menjadi orang yang terpilih untuk merasakan beratnya ujian hidup. Allah menguji diriku karna Allah tahu bahwa aku mampu melaluinya.Bahwasanya Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan hambanya. Aku juga jadi tahu bahwa segala ujian pasti akan ada hikmahnya dan Allah mempunyai rencana yang terbaik dari rencana hamba – hamba-Nya. Allah Maha Baik dan Maha Mengetahui isi hati para hambanya. Arkan suamiku sayang, hingga detik ini tak terbesit sedikitpun untuk menggantikan posisimu di hatiku. Meski banyak yang datang menghampiri hati ini namun tak menggoyahkan hatiku untuk menggantikanmu. Aku hanya untuk anak – anak kita. Dan aku ingin bahwa akulah isterimu untuk di dunia hingga di akhirat. Akulah jodoh dunia akhiratmu yang senantiasa mengabdikan cinta ini hingga Allah mempersatukan kita di jannah.
Arkan suamiku sayang, aku tinggalah menunggu waktu menanti maut itu tiba. Aku hanya dapat berdoa semoga aku dapat mengakhiri hidupku di jalan Allah agar Allah mempertemukan kita di pintu surga. Sayang, jika kau tak menemukanku di surga, carilah aku dan tanyakanlah pada Allah. Aku merindukanmu karena Allah dan tunggulah aku karena Allah. Honey, wait me in jannah.

♡The End♡

Posted by | View Post | View Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *