How Low Can You Go? Ust. Dian Alamanda Beberapa diantara…

How Low Can You Go?

Ust. Dian Alamanda

Beberapa diantara kita mungkin pernah merasa aneh, ketika bertemu dengan teman lama, dimana kawan lama kita itu, entah teman sekolah atau teman sepermainan, tidak seperti perkiraan kita ketika berjumpa setelah berpisah sekian tahun lamanya.

Kawan kita itu mungkin dulu adalah juara kelas. Anak yang selalu mendapatkan nilai tinggi dan selalu jadi pujian para guru dan orang tua. Kawan kita yang dulu sangat cerdas, antusias dan kharismatik. Ternyata ketika berpisah 15 atau 20 tahun lamanya, keadaan mereka jauh dari pikiran kita.
Kini mereka tampak biasa saja, bahkan cenderung terlihat seperti orang gagal. Tanpa prestasi. Tidak sesuai harapan. Mereka tampak menyedihkan, dibanding teman-teman yang lain yang dulu dianggap pecundang dan biasa-biasa saja.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kenyataan seperti ini?

Umumnya, untuk menghindari kerja keras, orang-orang dengan kapasitas besar cenderung menurunkan standar mereka. Dalam budaya populer seperti sekarang ini, semua ingin dicapai secara instan. Lalu kita sering menunda setiap hal yang mestinya penting bagi kita, lalu membunuh passion yang kita miliki.

Sayangnya, sepertinya mereka yang memiliki potensi besar, juga ternyata paling rawan mengalami performa buruk dan di bawah standar, yang konsekuensinya bukan cuma menimpa mereka, tapi juga masyarakat yang sesungguhnya membutuhkan performa ciamik mereka bagi kemajuan peradaban.

Apakah hal seperti ini masih bisa diubah? Tentu saja, namun perubahan membutuhkan komitmen, karena keinginan saja tidak cukup. Banyak orang ingin berubah menjadi lebih baik, namun tidak sanggup berkomitmen untuk mencapai perubahan tersebut.
Salah dua kunci perubahan adalah:

1. Perencanaan yang baik dan komitmen untuk merealisasikannya.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam surat al-Hasy ayat 18-19:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr: 18-19).

Lakukanlah evaluasi (muhasabah), kemudian buat rencana yang matang dan realistis, dan bangun komitmen untuk merealisasikannya, dan bertakwa serta memohon agar Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kita kekuatan untuk berkomitmen terhadap apa yang sudah kita rencanakan. Sebab rencana tanpa eksekusi adalah sebuah kegagalan sebagaimana eksekusi tanpa rencana juga adalah sebuah kesia-siaan.

2. Terus bergerak agar tidak kehilangan momentum,

sebagaimana firmah Allah dalam surat al-Insyirah ayat 5-8:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Qs. al-Insyirah: 5-8)

Kita hendaknya tidak menyerah kepada kesulitan yang dihadapi, karena dibalik kesulitan selalu menyertai kemudahan. Tetaplah istiqomah dan berkomitmen kepada tujuan. Dan apabila kita telah menyelesaikan suatu pekerjaan, jangan berlama-lama bersantai, segeralah dengan sungguh-sungguh mengerjakan tugas-tugas lain berikutnya, agar kita tidak kehilangan momentum.

Sebagaimana kita ketahui, dalam hukum Newton, sebuah benda yang bergerak akan lebih mudah untuk tetap bergerak. Tapi manakala sebuah benda itu diam, berhenti, akan membutuhkan effort yang jauh lebih besar untuk membuat ia bergerak.

Dan sebagaimana seorang mukmin, kita diperintahkan untuk terus berharap dan berdoa kepada Allah azza wa jalla, karena tiada daya upaya melainkan dari-Nya.

Pada tulisan selanjutnya, kita akan membahas tentang identifikasi penyebab buruknya kinerja, dan bagaimana strategi agar sebab-sebab ini bisa diatasi, dan perubahan dapat dicapai secara optimal.

Kita mesti merubah paradigma, dari how low can you go, menjadi how high can you reach.

Posted by | View Post | View Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *