Jagad dumay tiba-tiba dihebohkan dengan berita seorang anak perempuan yang…

Jagad dumay tiba-tiba dihebohkan dengan berita seorang anak perempuan yang ketika SMP berkerudung dan berprestasi, namun sejak pindah ke ibukota ia menjadi liar tak terkendali. Ia cukup rajin memposting gaya hidupnya yang liar di instagram.

Di bilangan Slipi, dua orang ibu ditabrak oleh pengendara motor yang masih anak-anak. Salah seorang korban kemudian nyawanya tidak tertolong. Meninggal di rumah sakit dalam pelukan suaminya. Sementara seorang lainnya masih dirawat intensif karena ada luka di bagian otak.

Sementara itu, sepasang anak SD kepergok sedang bermesraan di sebuah taman di bulan puasa. Tingkah mereka yang tak wajar membuat mereka dirazia oleh satpol PP. Satpol PP kemudian memberi hukuman push up untuk sang anak lelaki.

Di ruang sidang Mahkamah Konstitusi, Prof Dr Dadang Hawari mengemukakan data kebebasan seks yang terjadi di kalangan remaja. Beliau mengungkapkan bahwa 90% mahasiswa di Jogjakarta sudah tidak perawan. Di Bandung, 75% remaja mengaku sudah tidak perawan. Ini merupakan data terbaru yang dilakukan sebuah lembaga survey di tahun 2015.

Di sebuah desa, seorang anak berusia balita berlari-lari menuju ibunya sambil membawa sebuah gadget berlayar lebar. Ia merengek pada ibunya. Karena baterei gadgetnya habis, sementara permainannya belum usai. Permainan apakah yang sedang ia mainkan ? Ternyata permainan barbie yang sedang berpacaran.

Berbagai kejadian di atas bukan rekayasa. Bukan adegan di sinetron. Inilah kenyataan yang terjadi sekarang. Masyarakat mulai dari desa hingga perkotaan sudah terpapar oleh derasnya serangan teknologi. Sementara banyak dari masyarakat yang belum siap menghadapinya.

Mudahnya mendapat cicilan motor membuat berbagai kalangan seakan berlomba memilikinya. Kemudian ketika anaknya merengek, orangtua pun (entah karena gengsi atau alasan lainnya) kemudian mengijinkan anaknya untuk mengendarai motor walau belum cukup usia.

Jika motor diberi kemudahan dalam mencicil. Gadget pun tak mau kalah. Mulai harga 500rb sudah bisa digunakan untuk browsing dan sebagainya. Dan ketika anak merengek untuk dibelikan gadget, orangtua seakan tak kuasa untuk memenuhinya. Kembali lagi, entah karena gengsi atau betul-betul kebutuhan.

Berbagai kemajuan ini, tidak diiringi oleh kemajuan ilmu dari para orangtua. Banyak orangtua mengaku gaptek sehingga mudah diperdaya oleh anaknya dalam hal penggunaan gadget.

Padahal tak kurang keras usaha para dai baik di desa maupun perkotaan, mengajak orangtua untuk bersama mendalami ilmu agama. Kajian-kajian ilmu parenting terus dilakukan di masjid-masjid, di sekolah-sekolah, bahkan di dumay. Seorang pengurus sekolah bercerita pada saya,

“Kalau seminar parenting biasanya sepi bun. Paling yang dateng lima orang. Tapi coba seminar tentang hypno. Bisa full seat.”

Selain itu, berbagai akun dakwah parenting tersebar di twitter, path, instagram dan facebook. Namun dalam jumlah follower, akun-akun ini tetaplah kalah banyak dibanding akun belanja atau akun-akun berita tak penting.

Ditambah lagi minat baca yang sangat rendah. Sebagian besar masyarakat Indonesia mengacu dan belajar dari televisi. Padahal banyak acara-acara televisi yang tak mendidik. Lihat saja isi sinetron saat ini. Setelah era sinetron srigala dan harimau berakhir, kini mencuat sinetron remaja jalanan. Remaja digambarkan cantik, ganteng, kaya, pintar dan banyak fans. Betul-betul tidak mendidik.

Apakah kemudian ini merupakan kesalahan orangtua dalam mendidik anak-anaknya ? Bisa iya. Bisa tidak. Karena berdasarkan survey, penyebab lost control pada anak-anak adalah : 50% faktor orangtua dan 50% faktor lingkungan (teman, sekolah & saudara).

Tapi rasanya jika keadaan sudah parah seperti ini, bukan saatnya lagi bagi kita semua untuk saling tunjuk. Saling menyalahkan satu sama lain. Ini gara-gara kelengahan pemerintah. Ini gara-gara kelalaian sekolah. Bla…bla…bla…

Kenyataan yang terjadi, marilah kita gunakan untuk sama-sama introspeksi.

Bagi para orangtua, jangan lagi gunakan alasan tak ada waktu untuk belajar. Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua. Padahal menjadi orangtua tidaklah mudah. Zaman selalu berubah. Demikian juga model pendidikan pada anak. Karena itu, dengarkanlah dan datangilah para dai untuk mendapat nasehat bagaimana mendidik anak sesuai Alquran dan hadits.

Bagi para dai, tetaplah semangat dalam menyampaikan nasehat. Tambahlah waktu untuk memenuhi undangan-undangan kajian parenting. Berilah keleluasaan jamaah dalam melakukan konsultasi melalui gadget.

Kemudian, mari kita semua peduli satu sama lain. Eratkan kembali hubungan dengan masyarakat sekitar. Jangan marah ketika ada orang yang menasehati anak-anak kita. Jangan marah ketika pihak sekolah menghukum anak-anak karena melakukan kesalahan. Percayalah… semua itu dilakukan demi kebaikan anak.

Yang terakahir, mari kita bantu dan dorong pemerintah melakukan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada perbaikan dan keselamatan moral generasi penerus.

===================================

Ah… ini mah hanya tulisan sederhana dari saya dan untuk saya. Bentuk keprihatinan saya sebagai orangtua.

#marikembalibeberes

🌷 bundaSuci 🌷

keep syar’i n inspiring
@Muslimah_talk

Posted by | View Post | View Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *