Menanti Hujan

wpid-images-5.jpeg

 

Aku menanti hujan reda. Bersama secangkir coklat panas menjadi tumpuhanku bercerita. Kerap kali aku bicara dengannya di samping hujan yang selalu cemburu melihat kami bersama. Terus terang aku mengeluarkan segala paut diriku dengan kehidupan. Dan secangkir coklat panas hanya diam dan mengeluarkan uapnya. Di kamarku ini, masih kulihat dari jendela hujan masih deras. Menggumpal-gumpalkan kabut derasnya, biar tidak tampak orang yang lalu-lalang kehujanan. Hanya itu yang baru aku pikirkan, entah kenapa.

Aku menanti hujan reda. Sambil merapikan pakaianku yang berantakan. Akhirnya aku tertarik dengan jilbab warna coklat tua ini. Memanggil kembali kenangan pertama kali aku memahami tentang hijab sebenarnya. Berbeda hanya sekedar memakai hijab sejak aku masih umur balita. Ibuku sudah melatihku mengenakannya. Mulai dari pakai-lepas pakai-lepas hingga tak rela sekali untuk melepaskannya. Bagaikan dia adalah kulit hatiku, apa jadinya bila bungkus itu tiada melekat. Bisa tergores, kotor, dan membahayakan vitalnya hati. Banyak orang berkata bahwa mereka belum siap untuk berhijab, menurutku itu bukanlah alasan tetapi itu pilihan meraka. Tapi apakah pilihan itu memang tepat? Jika mereka belum siap, apa yang mereka beratkan sehingga belum siap? Apakah tepatnya mereka tidak siap meninggalkan kehidupan mereka yang seperti sekarang? Yang mengumbar aurat, bersolek yang berlebihan, bergaul secara bebas, dan membuat batasan sendiri tanpa pedoman. Aku tidak habis pikir tentang mereka. Nikmat apa lagi yang harus kita dustakan? Bukankah siap tidak siap kita tetap mendapatkan rezeki dari Allah Yang Maha Memberi? Jadi kenapa kita tidak siap untuk menjalani segala perintah-Nya dan larangan-Nya? Bukannya sudah diwajibkan bagi kaum hawa untuk menutup auratnya? Dan dengan secangkir coklat panas ini aku menjadi diam. Letupan pertanyaanku selalu muncul lagi. Padahal tidak ada ayat maupun hadis yang menerangkan harus bagaimana dulu seorang muslim harus memakai hijab. Menurutku, berhijab adalah hal yang sangat pokok bagi seorang muslimah. Dengan berhijab, satu-persatu kebaikan akan berdatangan, bukan malah mengharap kebaikan-kebaikan datang dahulu baru berhijab. Ada bagian rumus yang hilang atau juga mereka salah pakai rumus dalam memaknai sebuah ilmu atau perintah. Banyak orang yang aku temui berkata bahwa hijabi dulu hatimu baru hijabi auratmu. Apakah orang tersebut tidak salah konsep? Darimana dia mendapatkan ajaran seperti itu? Apakah ada hadisnya? Atau apa ada di ayat-ayat Al-Qur’an? Menurutku tidak! Jadi hendaklah orang-orang berpikir lagi dan berniat untuk mendalami ilmu agamanya bukan hanya sekadar mengikuti nafsu mereka dan tidak mementingkan kebaikan mereka yang sebenarnya.

Cangkir, yang berisi coklat panas yang masih kuseduh. Seduhan itu terus memanggil jalan pikiranku. Aku hanya selalu berharap aku bisa mengendalikan diriku terhadap dunia sekarang ini. Dipermudahkan untuk terus belajar menitih kehidupan dan menjadi muslimah sejati. Aku paham, mengapa seorang muslimah harus tetaplah menjadi seorang muslimah. Meski dunia tidak lagi menjadi dunia. Kekonsistenan haruslah tetap dipegang untuk keistiqomahan hati dan jiwa. Janganlah banyak bicara, tetapi pakailah sekarang juga. Sebab belum juga kita dihadapkan dengan masalah-masalah yang lain yaitu iman dan taqwa. Di samping hati yang terus berbolak-balik mencari keseimbangan dan istiqomah. “Cangkir, kau mengerti kan maksudku? Kau mau tahu kenapa aku tetap memakai hijab?”, tapi si cangkir hanya mengeluarkan uapnya. Dengan memakai hijab, aku masih bisa sekolah, aku masih bisa bergaul dengan baik, mencari informasi, mengikuti perkembangan zaman, masih bisa belajar ke luar negeri, menjadi anggota atau pengurus organisasi. Ya begitulah, lihat bagaimana kita pintar mengatur waktu dan kepentingan rohani kita. Bukankah semua aspek bisa kita kaitkan dengan dunia agama? Itulah hal yang menarik dan seringkali segala permasalahan terpecahkan jika kita sudah memiliki dasar dan prinsip. “Cangkir, kenapa kau masih diam?”.

Apalagi sekarang banyak mode hijab yang keren-keren, jadi tidak ada alasan untuk tidak memakai hijab karena norak dan tidak modis. Artis saja banyak yang memakai hijab dan tetap populer dan malah memiliki identitas tersendiri. “Cangkir, kau setuju kan?”. Hmm, tapi terkadang orang itu berlebihan untuk berhijab sehingga menghilangkan hakikat hijab itu tersendiri. Ada yang masih manampakkan lekuk-lekuk tubuhnya dan lebih mementingkan bertujuan menarik perhatian. Sebaiknya kita bisa saja mengikutinya tanpa menghilangkan hakikatnya, tetap serasi, dan sopan. “Cangkir, semoga engkau terisi dengan isi yang tepat ya.”

Aku masih menanti hujan reda. Di senja yang akan datang. Dan aku dihadapkan oleh dua pilihan. Di mana itu menguji sebuah keteguhan, yang kian kemari bergelayut di dalam pikiran. Aku katakana pada Si Nora waktu silam, “Kenapa kau tetap saja menjalin hubungan dengannya? Cintamu kepada agama saja belum kau penuhi dan kau malah sudah berani mengumbar cinta hanya untuk nafsu belaka.” Seperti kesal wajah yang ia tampakkan padaku dengan berkata, “Hei, Din. Emangnya kamu tau apa itu cinta? Seenaknya saja kau bilang begitu, kau itu gak pernah yang aku rasakan seperti saat ini! Kapan kau akan berhenti bertanya seperti itu padaku, Din?! Emangnya kamu sendiri sampai kapan menjomblo? Gak zaman yang namanya jomblo itu!”.

Aku dihadapkan pada dua pilihan. Antara menjadi teman yang baik bagi dia atau menjadi teman yang baik menurut dia. Aku di antara dua pilihan, hanya diam melihat sebuah keburukan yang terus terjadi pada temanku atau selalu mengingatkan kebaikan meski kata-kata pedas selalu akan dia lontarkan kepadaku. Namun, terlanjur sudah memutuskan pilihan yang pertama dan akhirnya rengganglah hubungan. Dua hari yang lalu saat aku menanti hujan reda, aku tuliskan perasaanku pada secarik kertas kepada Nora untuk mewakiliku.

Assalammu’alaikum…

Nora, temanku. Nora yang tersayang. Kau teman tak sekedar teman. Kau sahabat yang selalu menemaniku. Semoga engkau tetap mendapat rahmat dan kasih sayang-Nya. Aamiin.

Maafkan aku yang mungkin selalu membuat tersinggung hatimu. Sungguh tiada upaya diriku untuk bermaksud menyakitimu. Tak sedikit pun, Nora. Nora, aku tidak ingin ada kerenggangan di antara kita lagi. aku tidak tahu kenapa semuanya jadi begini keadaannya. Aku tidak ingin pertemanan kita berakhir seperti ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk meyakinkanmu, aku takut salah langkah. Maafkan aku, Nora. Dan aku merindukanmu….

Nora, di sini aku meminta maaf padamu bila aku sering membahas mengapa aku terus-terusan mengingatkanmu seperti itu?. Dan mengapa aku berani sekali menolak hati si ketua OSIS di sekolah kita?. Yang membuatmu juga marah entah kenapa, ya tentang pacaran. Tentang hatiku yang kau bilang tidak merasa apa yang kau rasakan, tentang bila kau tak mengikuti perkembangan mode sekarang kau pasti tidak bisa menjadi populer, berkarya, bersosialisasi, dan bila tidak berpacaran kau pasti dinilai tidak laku atau tidak gaul dan dinilai tidak mengerti arti cinta. Selain itu, kau juga bilang bahwa berhijab itu membuatmu terkungkung dan sulit berekspresi serta sulit mendapatkan perhatian. Sekali lagi aku katakana padamu, itu tidak benar, Nor. Aku mohon buanglah pikiran burukmu atau prasangka negatifmu itu. Bacalah suratku ini dengan ikhlas dan terbuka. Meski engkau tak membalas. Aku ingin kau dapat membuka hatimu untuk mengolah dalam membaca suratku ini. Aku perlu sedikit saja tidak apa, yang penting kau sudah mau membaca saja aku sudah sangat bersyukur, Nora.

Maafkan aku, Nor. Aku ingin kita tetap berteman lagi.

Dinda Belia Solihah

Di senja yang mulai menyapa. Aku tetap menanti hujan reda, yang kini secangkir coklat panas sudah tidak dikatakan panas lagi. Mengingat hari pada dua minggu yang lalu. Terakhirku bercengkrama dengan sebaik-baiknya teman dengan Nora. Aku gelisah, seperti, apakah coklat panas ini akan habis sebelum hujan reda atau setelah hujan berhenti?. Waktu itu yang juga bagai masa yang telah memecahkan duniaku dan dunianya. Tentang suatu keyakinan dan kebiasaan yang berbeda. Mungkin dilihat saja, kami berdua adalah dua sisi yang berbeda. Semuanya bisa menilai, entah itu teman-teman sekolah, guru, dan orang tua maupun orang lain. Tapi aku sangat sayang dan perhatian padanya, karena dia sudah kuanggap saudara kandungku. Dan sekarang aku merindukannya, bagaimanakah kabarnya, aku sudah lama tak bersamanya.

Cangkirku ternyata tak sengaja berani berkata. Pecahan katanya berserakan di lantai kamar yang aku jadikan cerita. Hingga dinding mungkin hanya bisa tersenyum dan melihat perpisahan kami. Dan aku menanti hujan reda dan ingin mendapat kabar gembira.

Aku menanti hujan reda. Diserang rasa jenuh yang mulai berganti menyelimuti. Aku menunggu hujan reda dan tak mungkin aku diam saja. Apa yang dicemburukan lagi si hujan ini, padahal si cangkir sudah masuk tong sampah. Aku berkata kepada air yang turun dari awan kelam, “Hujan, sekarang aku sendiri dan hanya kau yang menemaniku saat ini. Tanpa hidangan atau penghangat tubuhku yang dingin ini. Aku sekarang rela menemanimu hingga letih menyerangmu.” Tidak sampai semenit, setelah kuberkata padamu dan kau langsung pergi meninggalkanku. Mengizinkan aku untuk pergi mengunjungi nenek dan membeli lagi sepasang cangkir manis. Namun, sebelum aku beranjak pergi. Pintu rumah diketuk seseorang dari luar. Segera kubuka pintu itu. Tampak gadis berparas manis yang sekarang berdiri di hadapanku, berpayung merah hati, seperti warna kesukaanku. Mengenakan jas hujan bening yang tangan satunya memegang bingkisan cangkir manis bertuliskan “Dinda Belia Solihah”. Hampir tidak kukenali siapa yang ada di hadapanku sekarang ini. Sulit kupercaya akhirnya, bagai kodok benar-benar sudah sampai ke bulan. Adillah Noraisyah Suci, teman yang paling dekat denganku. Tampak di depan mataku sekarang ini, dan berkata padaku “Assalamu’alaikum, ukhtii.”, dengan memperlihatkan senyumnya yang manis. Aku hanya memandangnya, tak kuasa untuk menghentikan segala pikiranku yang berpusat pada kehadirannya. Dia yang kunanti dengan pertemuan, dia yang aku lihat sekarang mengenakan hijab warna merah mudah kelam. Aduhai cantik dan berbeda nian. Hingga ketiga kalinya dia mengucap salam baru aku sadar bahwa itu Nora dan memang benar-benar Nora. “Wa’alaikumsalam, ukhtii. Masya Allah, Nora! Apa kamu benar-benar Nora?!” sambil aku berjalan mengelilinginya dan mengoyak pundaknya. “Aku tidak sedang mimpi, kan? Ini Nora, kan?”. Aku masih belum mendapatkan keyakinan dari mulut Nora. “Iya, Din. Ini aku Nora, kamu benar dan kamu tidak bermimpi. Sini aku cubit, hehehe.”, sambutnya. “Iya, nyata. Hehehe. Kamu terlihat cantik dan anggun, Nor.”, balasku. “Benar? Tidak norak, kan?”, tanyanya. “Enggak, temanku sayang. Kamu malah terlihat cantik dengan jilbab yang kamu kenakan sekarang. Tapi, apa benar ini sudah pilihanmu?”, kataku untuk mencari jawaban. “Alhamdulillah, Din. Ini akan menjadi pilihanku selamanya. Berkat kamu juga aku bisa mendapat hidayah dari Allah. Perjuanganmu tidak sia-sia, Din. Sejak kita renggang, dua minggu yang lalu, aku banyak diliput masalah dan banyak orang yang membicarakan kebiasaanku yang dahulu, aku semakin gelisah dan tiba-tiba merasa ada yang hampa, apalagi orangtuaku seperti malu melihat aku. Dari situ, baru kusadari bahwa semua kata-katamu itu benar dan baru kusadari pula kau memang temanku yang terbaik, engkau sahabatku yang mengerti yang terbaik bagiku. Dina, maafkan aku ya?”, jelasnya dengan polos yang dia tampakkan. “Nor, tidak ada yang salah. Semuanya hanyalah masalah waktu. Dan waktu sekarang telah menjawabnya. Kita akhirnya bertemu kembali dengan keadaan yang seperti ini. Keadaan yang membuatku bahagia tak terkira. Aku yakin kamu pasti bisa bertahan dan Allah pasti makin sayang sama kamu, Nor.”, sambil aku memeluknya. “Aamiin. Terimakasih ya, Din.”

Hujan sudah reda. Aku bertanya lagi pada Nora, “Tapi bagaimana kariermu? Band-mu? Gayamu? Popularitasmu? Terus maaf, soal pacaran?”, sedikit aku takut akan jawabannya, mungkin aku nanti bisa menyinggung dia lagi, ah, semoga tidak. “Dina, tersayang. Allah Maha Mendengar doa-doamu dan Allah membenarkan perkataanmu selama ini. Aku sekarang masih ng-band, Din. Tapi, aku mengubah konsepku. Semua teman band-ku memaklumiku dan setuju dengan konsep yang aku buat.”

“Memangnya konsep seperti apa yang kamu buat? Terus penggemarmu?”, tanyaku menuntut.

“Konsep yang aku buat sekarang bertema religi, Din. Teman-tamanku setuju, mereka juga menambahkan ide lain tentang kostum kita saat ng-band. Semuanya seperti bergerak dan semakin kreatif, Din. Akhirnya kami berinisiatif menciptakan lagu-lagu religi. Dan pihak sekolah kita sangat mendukung perubahan kita. Di samping di kota kita yang sudah kebanyakan band pop atau rock, hal ini menguntungkan kita sekali. Misalnya Pemkab. kota ini mengundang kita di setiap acara resmi-resmi dan acara religi. Kota kita ternyata membutuhkan suasana yang baru, Din. Dan pastinya nanti masyarakat sangat mudah menerima perubahan kita.”, terangnya.

“Aamiin. Berarti kamu tetap eksis, dong? Hehe. Terus yang lain?”, selingku.

“Hehehe, iya, bisa dibilang begitu, Din. Malah kalah dengan saat aku ng-band ala pop. Hmm, soal penggemar sekarang tidak hanya di kalangan pemuda saja, Din. Tapi malah kalangan orang dewasa dan orangtua semakin banyak. Ya mungkin yang kalangan pemuda dibanding yang lalu sekarang masih sedikit. Soalnya pasti ada yang pro dan kontra. Tapi, itu kami anggap hal yang wajar, yang penting kan penggemarnya tetap banyak. Belum juga hasil perkembangan yang akan datang. Mungkin semakin bertambah dan membaik. Betul enggak, Din?”, jawabnya penuh kegirangan.

“Hahaha, iya, Nor. Kan ketambahan kalangan umur atas. Hihihi. Terus sekarang kamu berhenti ikut acara seperti komunitas cewek sampul?”

“Alhamdulillah, Din. Tapi, Din. Ketika aku berhenti, langsung ada orang yang mendatangiku untuk ikut manjadi anggota model majalah muslimah, ya seperti tokoh aktivis muslimah muda modern dan model busana muslim, Din. Alhamdulillah, Din. Di samping masih dalam batas syar’i, kok malah kesempatan yang baik malah berdatangan.”, jelasnya dengan matanya berbinar-binar.
“Alhamdulillah, semuanya ada jalan ya. Gak didatangi gimana, wong kamu sudah baik dan anaknya cantik dan tinggi semampai pula. Aku akan terus mendukungmu, Nor. Tapi, jangan lupa belajar agamanya, shalatnya, dan ngajinya ya. Kalau butuh bantuan apa, bilang saja sama aku, Nor. Insya Allah aku bisa bantu.”, kesanku.

“Terimakasih, Din. Oh ya, aku ingin ikut organisasi Remaja Masjid di sekolah, Din. Tapi, apa boleh? Aku kan sudah kelas tiga SMA.”, dengan mukanya yang sedikit putus asa.

“Ya ampun, Nor. Ya tidak apalah, menjadi remaja masjid sebenarnya tidak harus ikut organisasinya. Tapi hati dan jiwa kita yang selalu tertuju kepada masjid. Seperti sering shalat atau bejama’ah di masjid, merawat dan menjaga masjid. Di samping kita sekolah, apalagi di sekolah negeri ini. Kita harus menyeimbangi ilmu kita dengan ilmu agama, dari perkumpulan remaja masjid ini kita bisa belajar menambah wawasan tentang agama kita. Jadi, tidak hanya belajar agama tapi kita juga belajar tentang organisasi, belajar menghargai pendapat, managemen hati dan waktu, dilatih kerjasama, dan latihan kepemimpinan. Nantinya juga bermanfaat bagi masa depan kita. Hal itu semua tidak kalah penting dan menarik jika dibanding hanya mengikuti ekstrakulikuler favorit di sekolah atau organisasi yang ng-top di sekolah. Di kelompok perkumpulan remaja masjid, kita juga belajar tantang kebersamaan dan perbedaan serta mempunyai asas kekeluargaan di sekolah. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan bekal dan prinsip agar tidak mudah terpengaruh rayuan dunia atau ganasnya arus globalisasi sekarang ini dan masa depan. Kamu pasti tidak akan menyesal deh, Nor. Meski sudah kelas tiga, nanti kamu akan aku ajak ke sana dan aku bisa membantumu untuk menggunakan sebaik-baiknya waktu untuk bergabung di remaja masjid di sekolahan kita. Insya Allah, semua yang tertinggal masih bisa dikejar dan dipenuhi.”, jelasku.

“Masya Allah, kamu baik sekali, Din. Benar tidak salah lagi soal pembina memilihmu menjadi salah satu pengurus masjid di sekolah kita. Aku bangga padamu, Din. Aku jadi teringat kata-katamu yang dahulu. ‘Muslimah tetaplah muslimah meski dunia tak lagi dunia’, aku sangat terkesan dengan ucapan yang kamu sampaikan itu, Din.”, balasnya dengan senang menatapku.

“Alhamdulillah, kamu masih ingat ucapanku itu. Ucapanku itu juga menjadi semangat buat diriku juga, Nor. Sebab, apa yang kukatakan bukankah juga harus kulakukan? Oh ya, Nor. Satu lagi, motivasi buat kita sebagai muslimah di zaman ini, yakni ‘Muslimah sejati adalah sebaik-baiknya mutiara dunia’. Kamu mau menjadi sebaik-baiknya mutiara dunia dan dipilih sebaik-baiknya pemilih mutiara dan dimiliki secara setia dan sepenuh hati?”, tanyaku.

“Dalam sekali maknanya, Din. Pasti aku mau dan harus. Oh ya, kamu jangan heran kenapa aku bilang begitu. Sebab, aku sudah bukan milik siapa-siapa lagi, tapi aku milik suamiku yang belum bertemu denganku. Seperti itulah, Din.”, jawabnya dengan tersenyum sambil sedikit terlihat giginya yang rapi.

“Maksudmu, Nor? Kamu sudah putus alias sudah tidak pacaran lagi?”, reaksi yang penuh tanda tanya dan aku sangat tidak sabar menerima jawaban dari Nora.

Exactly! Kamu benar, Din. Kenapa bisa? Sebab, itu semua juga karena akibat kenapa aku tidak pernah nurut omonganmu, Din. Aku selalu kena marah orangtua karena sering menghambur-hamburkan uang, menggunakannya hanya untuk senang-senang dan hang out. Selain itu, uang habis buat biaya pacaran. Dan aku tiba-tiba malu disentuhi oleh pacarku, padahal kalau dipikir dia bukan siapa-siapaku di mata Tuhan. Aku menyadari bahwa hidup bukanlah seperti itu, kehidupan sebenarnya masih jauh sekali seperti itu. Setelah aku mendapat hidayah tersebut, aku merasa seperti telah menduakan hati kita dengan Pencipta kita yang memiliki Maha Cinta. Pacaran membuatku semakin jauh pada-Nya dan membutakan akan hakikat Islam dan cinta sebenarnya. Cinta hakikatnya bukanlah yang menyengsarakan dan menanam keburukan tapi cinta yang sebenarnya adalah kebahagiaan dan bahan kebaikan. Waktu menguji kita seberapa besar kepercayaan kita terhadap Allah dan menguji kita seberapa besar kesetiaan kita terhadap jodoh kita yang meski belum pernah bertemu sebelumnya. Memang Islam itu indah dan bodohnya aku sangat telambat mengetahui itu semua.”, ungkapnya.

“Tidak ada yang terlambat, Nor. Selagi ada niat untuk berubah dan terus berusaha serta memohon ampun pasti Allah selalu menjaga, menolong, dan memaafkan kesalahan kita. Kita hanyalah manusia dan sebaik-baiknya manusia dialah yang paling bertaqwa kepada Allah SWT.”, balasku penuh rasa bangga dan sayang pada Nora.

“Terimakasih, Din. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat sepertimu. Aku juga sudah menerapkan tips darimu untuk melampiaskan keluh kesahku, Din. Aku melampiaskan pada kertas dan dikit demi sedikit terbentuk puisi-puisi dan cerpen. Facebook dan Twitterku sekarang lebih aku gunakan untuk menebar kabaikan alias dakwah lewat dunia maya, kan tepat tuh Facebook kan komunitasnya banyak dan Insya Allah tepat sasaran. Bukankan kita juga dituntut memanfaatkan fasilitas sebaik-baiknya dari segi agama, jadi kita tidak akan ketinggalan perkembangan dunia maya juga dan kita bisa memantau perkembangan anak maupun remaja sekarang ini, Din.”, tambahnya.

“Makin pintar saja kamu, Nor. Nanti kamu akan aku ajak untuk menerbitkan karya-karyamu itu seperti aku dulu. Biar muslimah-muslimah gini kita tetap bisa tampil dan berprestasi, Nor. Kita bisa mengikuti juga dunia penerbitan dan perkembangan karya-karya sekarang. Semangat ya, Nor! Kita pasti bisa. Kalau sudah man jadda wajada, Insya Allah hasilnya kun fa ya kun. Aamiin.”

“Aamiin. Syukron, ukhtii.”, reaksi Nora yang menampakkan kehangatannya. Dan kita berpelukan kembali.

Saat ini, hujan sudah tidak lagi dikatakan hujan. Cangkir yang pecah sudah tidak dikatakan sebuah cangkir lagi. Dan malam ini, digantikan hangatnya pertemuan aku dan dia dengan suguhan teh hangat di cangkir baru. Malam ini kami bercanda ria, berbagi cerita, dan bertukar pendapat. Di waktu ini, aku sudah tidak menanti hujan reda. Tapi, aku menanti hari esok yang baru, yang lebih baik, bersama Nora kembali. (Selesai)

Posted by | View Post | View Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *