Pada tahun 1854, keluarganya pindah ke Michigan. Setiba di sana,…

Pada tahun 1854, keluarganya pindah ke Michigan. Setiba di sana, Al jatuh sakit sehingga orangtuanya memutuskan agar Al masuk sekolah lebih lambat ketimbang usia yang seharusnya…

Pada usia 7 tahun, ibunya menyekolahkan Al di sekolah lokal. Sang ibu sadar, sudah menjadi tugasnyalah mendidik anak agar menjadi orang yang berakhlak dan berakal. Sekolah hanya membantu saja… Sang ibu berharap di sekolah, Al akan beroleh lebih banyak ilmu, pengalaman, dan teman…

Namun, kenyataan sering tak sesuai dengan harapan. Al yang terbiasa belajar dengan banyak bertanya kepada sang ibu tidak bisa mengikuti peraturan sekolah yang mengharuskan siswanya duduk diam dan memperhatikan guru menjelaskan.

Di sekolah, setiap anak diharuskan mengingat dan mengulangi kata-kata gurunya. Sementara, rasa ingin tahu membuat Al sering bertanya kepada gurunya tentang hal-hal yang terlintas di benaknya, dan kadang di luar pelajaran yang sedang diajarkan.

Bila pelajaran di kelas terasa menjemukan, Al memilih untuk mencorat-coret atau melamun. Akibatnya, Al dicap sekolah sebagai anak yang bodoh, karena tidak bisa memperhatikan pelajaran di kelas!

Si guru menganggap Al anak yang bodoh. Hal ini tentu saja melukai hati Al. Sembari menangis, ia mengadu pada ibunya. Sang ibu terus meyakinkan anaknya bahwa ia adalah anak yang cerdas dan memintanya untuk tidak memikirkan lagi kata-kata si guru…

Sang ibu pun akhirnya mengeluarkan Al dari sekolah dan memutuskan untuk mendidik Al seorang diri di rumah. Boleh dibilang, Al hanya belajar di sekolah formal selama 3 bulan…

Dalam pengasuhan sang ibu, Al diajarkan mata pelajaran dasar yang diberikan di sekolah, yakni membaca, menulis, dan berhitung. Sang ibu tidak hanya mengisi Al dengan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan rasa percaya diri Al. Sang ayah, memberi upah 10 sen untuk setiap buku nonfiksi yang dibaca Al. Berhasilkah?

Ya! Sang ibu itu bernama Nancy Matthews Edison. Anaknya? Siapa lagi kalau bukan Thomas Alva Edison. Dengan kasih sayang dan ketekunannya, sang ibu berhasil mencetak seorang ilmuwan yang sangat berjasa bagi dunia, walaupun awalnya sekolah formal tidak mengakui kecerdasan ilmuwan itu…

Sedemikian dahsyat peran ibu dalam mengantarkan anak-anaknya menuju kesuksesan. Keterbatasan ekonomi, penolakan sekolah, dan penolakan lingkungan tak bisa menghalangi luapan kasih sayang serta didikan ibu kepada anak-anaknya…

Kita-kita yang sekarang menjadi orangtua hendaknya mengambil hikmah atas kisah ini. Be positive always, terhadap anak… Kita-kita yang sekarang menjadi anak hendaknya mengingat selalu kisah ini. Tingkatkan bakti kepada orangtua. Insya Allah berkah berlimpah… Salam dari saya, Ippho Santosa.

Keep syar’i n inspiring
@Muslimah_talk

Posted by | View Post | View Group

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *